POTRET CALON NAKHODA PBNU
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Di tengah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua, nama KH. Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, menjadi salah satu tokoh yang banyak diperbincangkan. Berbekal pengalaman panjang di dunia pesantren dan organisasi, beliau dikenal sebagai sosok yang mengedepankan persatuan, keteduhan, dan penguatan kembali jati diri NU sebagai organisasi para ulama.
Sebagai salah satu dzurriyah Hadratussyaikh KH. Bisri Syansuri, Gus Salam tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan, adab, dan khidmah kepada umat. Menjelang Muktamar NU ke-35, nama beliau muncul sebagai salah satu figur yang menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU atas dorongan dan restu para masyayikh.
Lahir dari Rahim Pesantren Denanyar
Gus Salam lahir dan dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, salah satu pesantren tertua di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.
Beliau merupakan cucu KH. Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama yang dikenal sebagai ulama ahli fikih sekaligus tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Warisan keilmuan dan keteladanan para pendiri NU inilah yang membentuk karakter Gus Salam sejak usia dini.
Kini beliau melanjutkan pengabdian sebagai salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, meneruskan estafet pendidikan dan dakwah yang telah dirintis para pendahulunya.
Menempuh Jalan Santri
Perjalanan pendidikan Gus Salam sepenuhnya ditempa melalui tradisi pesantren.
Beliau memulai pendidikan agama di Pesantren Denanyar, sebelum melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama Nusantara.
Di Ploso, beliau memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman seperti fikih, ushul fikih, nahwu, sharaf, dan kajian kitab kuning tingkat tinggi. Tradisi ilmiah yang kuat di pesantren tersebut membentuk karakter beliau sebagai santri yang mengedepankan ketelitian dalam memahami agama sekaligus menghormati sanad keilmuan.
Hingga kini, hubungan beliau dengan para masyayikh Ploso tetap terjalin erat sebagai bagian dari tradisi keilmuan pesantren yang terus dijaga.
Berkhidmah di Nahdlatul Ulama
Pengabdian Gus Salam di Nahdlatul Ulama dimulai dari tingkat bawah. Pada tahun 2002, beliau aktif di Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Kediri, forum yang menjadi ruang pengembangan kajian fikih dan pemecahan persoalan keagamaan.
Perjalanan organisasinya kemudian berlanjut hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, sebelum akhirnya mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU periode 2022–2027.
Namun di tengah amanah tersebut, Gus Salam memilih kembali fokus mengabdi di pesantren dan wilayah. Keputusan itu diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap dawuh para masyayikh agar tetap menjaga basis pendidikan pesantren dan memperkuat pelayanan kepada warga Nahdliyin di daerah.
Kontribusi Nyata
Selain aktif di organisasi, Gus Salam juga dikenal sebagai tokoh yang banyak mendorong penguatan kelembagaan Nahdlatul Ulama.
Salah satu kontribusinya adalah penyusunan Kertas Posisi Penataan Kepemimpinan NU, sebuah dokumen yang berisi berbagai gagasan mengenai penguatan tata kelola organisasi, kepemimpinan ulama, serta arah pembaruan NU di masa depan.
Beliau juga aktif menginisiasi berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat di sejumlah daerah. Melalui pendekatan berbasis potensi lokal, seperti sektor pertanian, pariwisata, dan usaha masyarakat, Gus Salam mendorong lahirnya ekosistem ekonomi yang mampu memperkuat kemandirian warga Nahdliyin.
Menurut beliau, organisasi yang besar harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga di sektor ekonomi dan sosial.
Gagasan tentang Nahdlatul Ulama
Dalam berbagai kesempatan, Gus Salam menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama harus kembali meneguhkan jati dirinya sebagai Jam'iyyah Diniyyah Ijtima'iyyah, yaitu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berakar pada tradisi pesantren.
Beliau berpandangan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasinya, tetapi terutama pada keberkahan para ulama dan pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama perjalanan organisasi.
Salah satu gagasan yang sering beliau sampaikan adalah pentingnya rekonsiliasi internal. Menurutnya, berbagai perbedaan pandangan yang pernah muncul di lingkungan NU hendaknya diselesaikan melalui musyawarah, saling menghormati, dan semangat persaudaraan. Persatuan warga Nahdliyin merupakan modal terbesar untuk menghadapi tantangan masa depan.
Gus Salam juga mendorong hadirnya kepemimpinan NU yang lebih transparan, kolektif, dan akuntabel. Organisasi, menurut beliau, harus dikelola dengan semangat kebersamaan serta menjunjung tinggi mekanisme organisasi yang sehat.
Dalam konteks hubungan NU dengan dunia politik, beliau berpandangan bahwa organisasi kemasyarakatan dan partai politik memiliki ruang pengabdian yang berbeda. Karena itu, masing-masing perlu menjalankan perannya secara proporsional dengan tetap menjaga komunikasi yang baik demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Kepemimpinan yang Meneduhkan
Bagi banyak warga Nahdlatul Ulama, Gus Salam dikenal sebagai pribadi yang tenang, sederhana, dan dekat dengan para kiai maupun masyarakat. Gaya kepemimpinannya lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi, serta mengedepankan musyawarah sebagai jalan menyelesaikan persoalan.
Beliau meyakini bahwa organisasi sebesar Nahdlatul Ulama akan tetap kokoh apabila seluruh elemennya mampu menjaga ukhuwah, menghormati para ulama, serta terus merawat tradisi pesantren sebagai sumber inspirasi dalam setiap langkah pengabdian.
Dengan demikian, KH. Abdussalam Shohib merupakan representasi generasi penerus ulama pesantren yang berupaya menjaga kesinambungan nilai-nilai para muassis Nahdlatul Ulama. Dengan pengalaman panjang di dunia pesantren, organisasi, dan pemberdayaan masyarakat, beliau terus mengajak warga NU untuk memperkuat persatuan, menjaga marwah organisasi, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.
Perjalanan Gus Salam menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Nahdlatul Ulama tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari keteladanan, kedekatan dengan pesantren, dan komitmen menjaga warisan perjuangan para ulama bagi generasi mendatang.
Penulis: Himami Andalusia
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Opini
MUKTAMAR KE-35 NU: ANTARA KEDAULATAN MUKTAMIRIN DAN SENYAPNYA SEBUAH PENGONDISIAN
Opini