Saturday, 19 September 2026
Jaringan Media
Logo Site
TERPOPULER • PCNU dan PEMKAB BANYUWANGI Sinergikan Langkah untuk Kemaslahatan Umat • MANTABKAN LANGKAH, PCNU RAPAT KORDINASI • Nu Online Merancang Grand Planing 5 Tahun Kedepan • KEPALA BPN SAMBANGI PCNU • PENGUKUHAN LTNU, SEBAGAI WUJUD GERAKAN LITERASI NU BANYUWANGI • Optimalisasi Website NU Online, PCNU Banyuwangi Gelar Meet and Great Virtual Bersama NU Online • Pengurus Baru LKNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siap Bangun Zona Hijau Kesehatan • GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik • PCNU Banyuwangi Sambut Silaturahmi DPC PKB Jelang Harlah Ke-28, Teguhkan Sinergi untuk Umat • "MWC, Lembaga, dan Banom Harus Aktif dan Satu Komando," Tegas Ketua PCNU Banyuwangi dalam TURBA Ngerandu NU di Kalipuro

POTRET CALON NAKHODA PBNU

NU Online Banyuwangi

Editor 19 Aug 2026 00:04 WIB

Bagikan Artikel
Link berhasil disalin!

KH. Zulfa Musthofa

Di tengah dinamika Nahdlatul Ulama (NU) yang terus berkembang, nama KH. Zulfa Mustofa menjadi salah satu figur yang menarik perhatian. Bukan hanya karena kapasitas keilmuannya sebagai ahli fikih dan penulis kitab berbahasa Arab, tetapi juga karena kemampuannya memadukan tradisi pesantren dengan tantangan zaman.
Lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977, KH. Zulfa Mustofa tumbuh dalam keluarga ulama yang memiliki akar keilmuan kuat. Ayahnya, KH. Muqarrabin, merupakan ulama asal Pekalongan, sedangkan ibunya, Nyai Hj. Marhumah Latifah, berasal dari Kresek, Tangerang. Dari garis keluarga ibunya, beliau masih memiliki hubungan dekat dengan KH. Ma'ruf Amin, mantan Rais Aam PBNU sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13. Bahkan, silsilah keluarganya tersambung kepada ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani, sehingga sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan yang kaya dengan tradisi ilmu dan dakwah.

Menempuh Jalan Santri

Perjalanan pendidikan KH. Zulfa Mustofa dimulai di SD Al-Jihad Tanjung Priok, Jakarta Utara. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan di Pekalongan dan menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon.
Kehausan terhadap ilmu agama membawanya melanjutkan masa nyantri di Kajen, Margoyoso, Pati, salah satu pusat pendidikan pesantren yang melahirkan banyak ulama besar Indonesia. Di tempat inilah beliau belajar langsung kepada dua guru yang sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya, yaitu KH. M.A. Sahal Mahfudh dan KH. Rifai Nasuha. Dari keduanya, beliau tidak hanya mempelajari fikih dan ushul fikih, tetapi juga belajar ketelitian berpikir, adab keilmuan, dan cara menghadirkan Islam yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Setelah menamatkan Madrasah Aliyah pada tahun 1996, beliau sebenarnya bercita-cita melanjutkan studi ke Timur Tengah, baik ke Universitas Al-Azhar Mesir maupun ke Makkah. Namun takdir berkata lain. Menjelang keberangkatannya, sang ayah wafat pada malam Idulfitri. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya.
Alih-alih melanjutkan studi ke luar negeri, beliau memilih melanjutkan perjuangan ayahnya dengan mengajar di berbagai majelis taklim dan membimbing masyarakat.

Dari Mimbar ke Mimbar

Tanggung jawab itu dijalani dengan penuh kesungguhan. Bahkan pada usia 19 tahun, KH. Zulfa Mustofa telah mengisi sekitar lima belas majelis taklim di berbagai daerah.
Semangat dakwah tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan Majelis Taklim Darul Mustofa pada tahun 2000. Hingga kini, majelis tersebut menjadi salah satu pusat pengajian yang konsisten menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah melalui pendekatan yang santun, ilmiah, dan membumi.
Bagi KH. Zulfa Mustofa, dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi juga membangun karakter umat, memperkuat tradisi keilmuan, dan menjaga persatuan bangsa.

Ulama yang Produktif Menulis

Di tengah kesibukannya berdakwah, KH. Zulfa Mustofa juga dikenal sebagai salah satu ulama NU yang produktif melahirkan karya ilmiah berbahasa Arab. Beliau ingin menghidupkan kembali tradisi ulama Nusantara yang tidak hanya mengajar, tetapi juga meninggalkan warisan keilmuan melalui tulisan.
Beberapa karya pentingnya antara lain:

  • Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu, yang membahas metodologi fatwa dan bekal dasar bagi para penuntut ilmu fikih.
  • Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi'i, tentang ketelitian memahami metodologi Imam Syafi'i.
  • Dlawabith Bahtsil Masa'il wa al-Ifta' 'inda Nahdlatil 'Ulama', yang menguraikan kaidah-kaidah Bahtsul Masa'il sebagai tradisi intelektual khas Nahdlatul Ulama.
  • Tuhfat al-Qashi wa al-Dani, biografi Syekh Nawawi al-Bantani yang diperkaya dengan syair-syair Arab.
  • Ithafu Ummati Al Muqtafa, sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa beliau bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga seorang intelektual pesantren yang terus mengembangkan khazanah keilmuan Islam.

Pemikiran tentang Nahdlatul Ulama

Dalam berbagai kesempatan, KH. Zulfa Mustofa menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama berdiri di atas dua tanggung jawab besar.

  • Pertama, tanggung jawab keagamaan, yaitu menjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, memperkuat pendidikan pesantren, dan membangun kehidupan beragama yang penuh kasih sayang tanpa mudah menghakimi ataupun mengkafirkan sesama.
  • Kedua, tanggung jawab kebangsaan, yaitu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut beliau, kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan Nahdlatul Ulama.

Beliau juga sering mengingatkan bahwa kekuatan NU tidak terletak pada besarnya organisasi semata, melainkan pada kualitas kadernya. Karena itu, seorang pengurus NU harus memiliki dua bekal utama: mendalam dalam ilmu agama sekaligus peka terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Selain itu, KH. Zulfa Mustofa mendorong para santri untuk kembali membangun budaya menulis, melakukan kajian ilmiah, serta mampu mengontekstualisasikan warisan kitab klasik (turats) agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Bagi beliau, menjaga tradisi tidak berarti menolak perubahan, melainkan menjadikan tradisi sebagai fondasi untuk menghadirkan solusi yang lebih baik bagi umat.

Menjaga Persatuan, Merawat Perbedaan

Dalam setiap pengajian, KH. Zulfa Mustofa selalu mengajak masyarakat untuk menjaga ukhuwah dan menghindari sikap saling menyalahkan dalam persoalan khilafiyah.
Menurutnya, perbedaan praktik ibadah yang memiliki dasar keilmuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persaudaraan. Justru di situlah wajah Islam Nusantara hadir, yaitu menghormati perbedaan, mengedepankan adab, dan menjaga persatuan.
Baginya, NU bukan sekadar organisasi, melainkan ikhtiar kolektif para ulama untuk menjaga agama, merawat bangsa, serta menghadirkan Islam yang damai, moderat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.
Dengan demikian, KH. Zulfa Mustofa merepresentasikan sosok ulama pesantren yang tetap teguh memegang tradisi, namun mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ilmu, dakwah, dan pengabdian tidak dapat dipisahkan. Melalui majelis taklim, karya-karya ilmiah, serta kiprahnya di Nahdlatul Ulama, beliau terus mengajak generasi muda untuk mencintai ilmu, menjaga persatuan, dan melanjutkan estafet perjuangan ulama dengan semangat yang relevan bagi masa depan Indonesia.

Penulis : Gus Himami Andalusia

Ditulis Oleh

NU Online Banyuwangi

Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.

Membuka dokumen...

Link berhasil disalin!