Potret Calon Nahkoda PBNU
KH. Yahya Cholil Staquf
Jika berbicara tentang Nahdlatul Ulama (NU) di era modern, nama KH. Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya tentu menjadi salah satu tokoh yang tidak dapat dilewatkan. Sosok kelahiran Rembang, 15 Februari 1966 ini resmi memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Ketua Umum masa khidmat 2021–2026 setelah ditetapkan dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada 24 Desember 2021.
Namun, perjalanan Gus Yahya tidak dimulai dari ruang-ruang organisasi, melainkan dari tradisi pesantren yang kuat. Ia tumbuh di lingkungan keluarga ulama besar. Ayahnya adalah KH. Muhammad Cholil Bisri, seorang tokoh NU yang berpengaruh. Kakeknya, KH. Bisri Mustofa, dikenal luas sebagai penyusun Tafsir Al-Ibriz, sementara pamannya adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), ulama, budayawan, sekaligus Mustasyar PBNU. Dari keluarga inilah Gus Yahya mewarisi tradisi keilmuan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada umat.
Menyatukan Tradisi Pesantren dan Ilmu Sosial
Meskipun lahir dalam keluarga kiai, Gus Yahya tetap menjalani pendidikan pesantren secara penuh. Ia belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Maksum, salah satu ulama kharismatik Indonesia. Di sana, ia mendalami fikih, tafsir, hadis, hingga berbagai disiplin ilmu keislaman klasik.
Menariknya, setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Gus Yahya memilih melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Pilihan ini menunjukkan ketertarikannya untuk memahami masyarakat, politik, dan dinamika sosial secara lebih luas. Ia juga pernah bermukim di Makkah selama satu tahun untuk memperdalam kajian keislaman.
Perpaduan antara tradisi pesantren dan ilmu sosial inilah yang kemudian membentuk karakter pemikirannya: berpijak pada warisan ulama, tetapi mampu membaca tantangan zaman secara kritis dan terbuka.
Belajar Politik dari Gus Dur
Salah satu fase penting dalam perjalanan hidup Gus Yahya adalah kedekatannya dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia tidak hanya menjadi murid, tetapi juga dipercaya sebagai asisten sekaligus juru bicara Presiden RI ketika Gus Dur memimpin Indonesia pada periode 1999–2001.
Pengalaman tersebut menjadi sekolah kepemimpinan yang berharga. Dari Gus Dur, ia belajar bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang kemanusiaan, demokrasi, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Membawa Islam Nusantara ke Dunia Internasional
Nama Gus Yahya semakin dikenal di tingkat global ketika aktif mengikuti berbagai forum internasional yang membahas perdamaian, dialog antaragama, dan masa depan peradaban dunia. Ia konsisten menyampaikan bahwa Islam memiliki potensi besar sebagai kekuatan yang menghadirkan kasih sayang, bukan konflik.
Salah satu gagasan besarnya diwujudkan melalui pendirian Bayt ar-Rahmah, sebuah lembaga yang mempromosikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). Melalui berbagai forum di Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah, Gus Yahya terus memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan mampu berdialog dengan berbagai peradaban.
Bagi Gus Yahya, keberagaman bukan ancaman, melainkan modal untuk membangun perdamaian dunia.
Memimpin Nahdlatul Ulama di Era Baru
Terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada tahun 2021 menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Di bawah kepemimpinannya, NU diarahkan tidak hanya menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan moral dunia.
Ada tiga agenda besar yang terus ia dorong.
- Pertama, pembaruan pemikiran Islam, yaitu menghadirkan pemahaman keagamaan yang ramah, humanis, serta mampu menjawab tantangan zaman.
- Kedua, penguatan peran global NU, dengan menjadikan organisasi ini sebagai mitra strategis dalam membangun dialog antarperadaban dan perdamaian dunia.
- Ketiga, transformasi organisasi, yaitu memperkuat tata kelola NU agar semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Warisan Pemikiran
Selain aktif memimpin organisasi, Gus Yahya juga dikenal sebagai penulis. Beberapa karya pentingnya antara lain:
- NU NextGen: Wasiat Peradaban untuk Generasi Masa Depan, yang mengulas kembali nilai-nilai dasar perjuangan Nahdlatul Ulama sekaligus menawarkan arah baru bagi generasi penerus.
- Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama, yang menjelaskan sejarah lahirnya PBNU, perjalanan organisasi, serta gagasan NU tentang perdamaian dan kemanusiaan lintas bangsa.
Dengan demikian Di tengah dunia yang semakin kompleks, KH. Yahya Cholil Staquf hadir sebagai representasi ulama yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Ia menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat menjaga warisan keilmuan, tetapi juga ruang untuk melahirkan pemimpin yang mampu berdialog dengan dunia.
Bagi generasi muda, Gus Yahya memberikan pelajaran penting bahwa menjadi santri tidak berarti tertinggal oleh zaman. Justru dengan akar tradisi yang kuat, seseorang dapat melangkah lebih jauh, membawa nilai-nilai Islam yang damai, inklusif, dan relevan bagi peradaban global.
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Opini
MUKTAMAR KE-35 NU: ANTARA KEDAULATAN MUKTAMIRIN DAN SENYAPNYA SEBUAH PENGONDISIAN
Opini