GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik
BANYUWANGI — Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Muncar menggelar istighatsah malam Petik Laut Muncar, Selasa malam (30/6), mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual menyambut rangkaian tradisi Petik Laut Muncar, salah satu tradisi masyarakat pesisir Banyuwangi yang telah mengakar kuat sejak lama.
Istighatsah ini dihadiri jajaran ketua dan anggota GP Ansor se-Kecamatan Muncar. Hadir pula Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Muncar, Hanif Rhomadon Efendi atau akrab disapa Ustadz Hanif, serta Bendahara Umum Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) PC GP Ansor Kabupaten Banyuwangi, Ulin Nuha atau Gus Ulin.
Acara tersebut digelar di kediaman Paito atau Haji Paito, pemilik Perahu Oplosan. Pada pelaksanaan Petik Laut Muncar tahun ini, Perahu Oplosan mendapat giliran menjadi perahu yang membawa Gitik untuk dilarung sebagaimana prosesi adat yang berlangsung setiap tahun.
Ketua PAC GP Ansor Muncar, Chairil Anwar, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Muncar sangat erat dengan sektor perikanan. Menurutnya, keberlimpahan hasil laut bukan hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor ekonomi masyarakat.
“Bagaimanapun barometer ekonomi di Muncar itu adalah ikan. Kalau ikan tidak ada, ekonomi di Muncar tidak akan jalan,” ujar Chairil Anwar.
Ia menambahkan, istighatsah malam Petik Laut menjadi momentum untuk menyatukan doa dan harapan bersama. GP Ansor Muncar berharap tradisi Petik Laut tidak hanya dimaknai sebagai agenda budaya, tetapi juga ruang spiritual untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kelimpahan hasil laut.
“Ini merupakan ikhtiar kita bersama. Di momentum Petik Laut ini, kita satukan doa dengan harapan agar ke depan ikan yang ada di Muncar semakin banyak,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua MWC NU Muncar, Ustadz Hanif, dalam sambutannya mengulas sejarah panjang Petik Laut Muncar. Ia menyampaikan bahwa tradisi tersebut berawal sejak tahun 1901 dan telah mengalami sejumlah perubahan dari masa ke masa. Meski demikian, perubahan itu tidak menghilangkan inti prosesi dan nilai utama Petik Laut sebagai ungkapan syukur masyarakat nelayan.
Ustadz Hanif juga menyinggung perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat nelayan Muncar. Menurutnya, dahulu ketika hasil tangkapan ikan melimpah, sebagian nelayan merayakannya dengan kegiatan yang kurang baik, seperti minum-minuman. Namun seiring waktu, kebiasaan tersebut mulai berubah ke arah yang lebih positif.
“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai membaik. Tradisi ini harus terus diarahkan menjadi ruang syukur, doa, dan kebersamaan masyarakat,” tutur Ustadz Hanif.
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum MDS RA PC GP Ansor Kabupaten Banyuwangi, Gus Ulin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan istighatsah tersebut. Ia mengaku bangga karena GP Ansor Muncar mampu menghadirkan kegiatan keagamaan yang menyatu dengan tradisi masyarakat pesisir.
Gus Ulin juga menekankan pentingnya semangat pengabdian yang dilandasi keikhlasan karena Allah. Menurutnya, gerakan kader Ansor harus terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam kegiatan organisasi, tetapi juga dalam ruang sosial, budaya, dan keagamaan.
“Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa Ansor hadir bersama masyarakat. Pengabdian harus dilandasi niat karena Allah, sehingga setiap langkah yang dilakukan memiliki nilai ibadah,” ujarnya.
Tradisi Petik Laut Muncar sendiri dikenal sebagai salah satu tradisi sedekah laut masyarakat pesisir Banyuwangi. Prosesi ini biasanya ditandai dengan pelarungan Gitik ke laut sebagai simbol rasa syukur nelayan atas hasil tangkapan ikan sekaligus doa keselamatan saat melaut.
Melalui istighatsah malam Petik Laut ini, GP Ansor Muncar berharap masyarakat pesisir semakin kompak menjaga tradisi, memperkuat nilai keagamaan, dan terus berdoa agar hasil laut di Muncar semakin melimpah. Acara berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti para kader Ansor, tokoh NU, serta masyarakat yang hadir di lokasi.
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Daerah
Hadrah Kuntulan: Ketika Dakwah Berbunyi di Bumi Blambangan
Daerah
Turba ke-6 di Siliragung, PCNU Banyuwangi Beberkan Temuan Penting tentang Kondisi Ranting NU
Daerah